Sabtu, 21 April 2018

Wanita Itu Seperti Buah Apel


Wanita Itu Seperti Buah Apelwanita itu seperti buah apel 🍎


Menurut saya, hubungan antar manusia itu seperti apel dan pemetiknya.

Jadi seperti ini.

Di sebuah pohon apel, tentu ada apel yang terlewat matang atau gagal matang; ia terkapar di tanah. Ada juga apel yang indah dan matang; ia tergantung di bagian teratas pohon apel itu.

Nah, asumsikan yang menjadi pengambil apel itu para penghuni planet mars, alias pria. Di planet itu, pekerjaan mengambil apel itu dibanggakan. Ada dua tipe pengambil apel.

Pengambil apel pertama, yang mengambil sebuah apel tak perduli bagaimana apelnya: walau apelnya terkapar ditanah, kalau masih terlihat indah, ambil saja, toh masih apel dan tidak terlalu tersayat-sayat rupanya. Pengambil apel ini mengambil apel dengan kondisi apapun, untuk menjaga statusnya sebagai pengambil apel yang notabene sangat dihargai di planet mars. “Status, man. Daripada nggak dapat apel, ambil saja yang ditanah, asal mulus. Yang penting bisa dinikmati untuk sementara: dipegang, digenggam, ditunjukkan ke pengambil apel lainnya. Toh, nanti akan ada apel yang beda lagi.”

Pengambil apel kedua mencoba menunggu sampai apel siap dipetik. Ia mencoba untuk menunggu apel yang mulus diluar, crunchy didalam, dan umumnya apel seperti itu terletak di bagian tertinggi pohon apel. Sering dicemooh, sepertinya, pengambil apel ini. Terkadang, ia sering diejek sebagai pemetik jeruk, karena terus berusaha mengambil apel yang diatas sana, dan mencoba menghindari godaan untuk mengambil apel yang tepat ada di kakinya. Pengambil apel ini berusaha untuk mengambil satu apel terbaik. “Satu apel. Daripada mempermainkan apel yang sudah jatuh, lebih baik berusaha untuk yang terbaik.”

Kembali ke apel.

Di suatu musim tertentu, ada beberapa apel yang menjatuhkan diri ke tanah karena melihat pengambil apel yang ia sukai. Ada juga yang di tanah karena sudah di tanah. Lalu, diambillah apel itu oleh pengambil apel tipe pertama. Tidak perduli ia apa kata teman-temannya, yang penting, dia sudah diambil oleh si pengambil apel, berstatus. Terkadang apel ini rela dijual belikan begitu saja di pasar buah. Beda pedagang setiap hari, atau setiap bulan, atau setiap 3 bulan. “Ayo, apel, apel”, ujar pedagang satu dengan yang lainnya, atau, “Wah, aku lihat kamu sama apel yang baru di toko sebelah sana. Apel baru ya?” |”Iya nih, apel baru. Cantik kan apel saya yang ini?”

Diwaktu yang sama, apel yang terletak dibagian atas, bingung. Setahu dirinya dia indah, luar dalam. Apa yang salah? Mengapa para pengambil apel memilih yang sudah jatuh dibawah? Apel yang ini lalu mencoba mengubah dirinya. Tapi,

sadarlah, Apel yang diatas sana, kalau dirimu itu berbeda dalam sudut pandang positif. Tidak ada yang perlu diubah. Tinggal menunggu pengambil apel tipe kedua, yang rela dicemooh dan diejek si pemetik jeruk. Jika suatu hari kalian bertemu, kalian pasti akan bersama. Tetap jaga harga buahmu

Source https://archive.kaskus.co.id/thread/6862999/1

Kamis, 05 Oktober 2017

Short story of Malang



Pertamakali tinggal di Malang itu rasanya nggak betah. Bisa dipastikan setiap hari itu nangis tidur larut malam dan bangun sangat pagi. Ini bener – bener terjadi selama beberapa bulan, sampai pernah nangis – nangis pas telpon bapak dan mbak sodara. Selalu ngeluh dan bilang nggak betah pengen pindah. Tapi setelah semua baik - baik saja ternyata Malang kota yang cukup nyaman.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Galau part sekian

Sudah sejauh ini, tiba-tiba dipaksa ditarik kembali.
Akibatnya? Terluka

24 Agustus 2017

Rabu, 26 April 2017

Galau lagi ditengah malam

Jadiii
Aku mau bilang makasih ke mas2 yang udah pernah bilang gini "galau ae"
Saat aku ganti display name dari Emi Ivana -> Kangen
Walauuupun tulisan ini nggak pernah dia baca. Wkwkwk paling enggak aku masih seneng sampe sekarang. Oh iya ini lagi galau lagi loh mas btw. Jadi inget kata "galau ae" trus jadi ada sedikit rasa seneng sih walaupun galau. Hmmmm
Trus trus
Berarti masnya tau dong ya kalau aku sering galau :D
Bacain pmku di bbm juga dong ya :p
Ya walaupun jarang banget chat sama mas itu tapi nggak tau kenapa efek dari dia komen "galau ae" sampe sekarang masih membekas...

Rabu, 26 Oktober 2016

Sekilas curhatan

13 September 2016
Malang
Kita bertemu, aku menemaninya membeli buku. Terakhir dia menggegam tanganku.
Tapi ternyata disaat bersamaan, dia juga memikirkan wanitanya. Lalu dia memutuskan ingin kembali kepadanya.

25 September 2016
Tulungagung
Kita bertemu lagi. Bertemu seperti biasanya. Bercerita seperti biasanya. Merencanakan kembali ke Malang pada ke esokan harinya.

26 September 2016
Tulungagung-Malang
Jam 5 pagi kita berangkat ke Malang sampai di Malang jam 8.30 lalu jam 10.00 kita berangkat bersama ke UB. Semua berjalan lancar. Seperti biasanya. Tapi ternyata di hari yang sama. Dia curhat kepada teman dunia maya nya. Bahwa dia merindukan sosok wanitanya. Dia ingin kembali seperti sedia kala. Didukung juga dengan teman curhatnya yang sangat dipercayai.

Dari tanggal itu aku mulai berfikir bahwa aku dibuangnya. Tapi dia selalu menyanggah. Lalu apakah seorang aku ini??
Aku yang menemaninya selama kurang lebih 3 tahun lamanya.
Aku yang selalu merindukannya.
Aku yang selalu sabar menanti kabar dari nya.
Aku yang selalu setia kepadanya.
Aku sadar, kesalahanku di akhir hubungan ini.
Namun apakah memang aku tak pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya??

Rabu, 19 Maret 2014

DER ZAUBER 2


DER ZAUBER 2
(si penyihir)

Setelah menunggu beberapa menit si penelpon misterius itu akhirnya datang juga. Alangkah terkejutnya Lita mengetahui siapa yang datang itu ternyata.........


“ Al?”  kejut Lita
“ ya, gue” jawabnya dingin
“ ternyata loe, yang telpon gue” ucap Lita tak percaya
“ iya” jawab Al singkat
“ loe dapat nomer gue dari mana?” heran Lita
“ dapetin nomer loe itu mudah banget buat gue” ucapnya
“ oke, to the point aja, loe mau ngapain nyuruh gue kesini?” jawab Lita
“ loe tadi kesini naik apa?” tanya Al mengalihkan perhatian
“ ehmm, gue naik taksi” jawabnya gugup
“ kok gue gak tau loe turun dari taksi, padahal gue di depan sana” curiga Al
“ loe tadi pas merem kali, gue segede gini kok gak tau” sahut Lita
“ oh iya, terimakasih tadi siang udah nyelamatin gue” Lanjut Lita
“ santai aja”  jawabnya singkat
“ udah? Gitu doank? Yaudah gue pulang aja deh” kesal Lita
“ yaudah pulang aja, lagian ini juga udah malam. Gak baik buat zauber” ucap Al dengan nada santai dan cueknya

          Degg.......Lita sangat kaget sekali mendengar jawaban Al. Dia menatap sebentar Al dengan  langsung memutuskan untuk langsung pulang.

            Sesampainya di rumah Lita langsung merenungkan perkataan Al. Dia terus mengingat perkataan Al yaudah pulang aja, lagian ini juga udah malam. Gak baik buat zauber.
“ Zauber? Zauber kan artinya penyihir” gumamnya sendiri

Jangan-jangan Al tau kalau gue seorang penyihir ucapnya dalam hati. Malam itu Lita sulit untuk tidur karena memikirkannya. Lita takut kalau Al membongkar identitasnya sebagai penyihir. Dia juga bingung bagaimana nasibnya besok di sekolah.
***

                Keesok an harinya saat lita sedang sarapan. Mamanya menangkap sikap aneh dari putrinya itu. Tidak seperti biasanya Lita menjadi pendiam dan murung.

“ kamu kenapa sayang?” tanya mamanya
“ aku gak kenapa-napa kok ma” bohongnya
“ jangan bohong” mama
“beneran ma, aku gak bohong” jawab Lita

            Karena takut mamanya tahu kalau Lita berbohong dia cepat-cepat berangkat sekolah. Sesampainya di sekolah stelah memarkirkan mobil sportnya tidak sengaja Lita berpapasan dengan Al yang juga memarkirkan mobilnya. Lita langsung menarik Al ke tempat yang sepi.

“ maksud loe tadi malam apa Al?” tanya Lita
“ yang mana?” jawab Al
“ zauber, maksudnya apa loe ngomong gitu ke gue” jelasnya
“ oh..itu, gue gak maksud apa-apa kok” jawabnya cuek sambil meninggalkan Lita begitu saja

            Kali ini Lita benar-benar kesal kesal kepada Al. Tetapi di lain sisi dia juga sangat penasaran kepada Al. Namun setelah dipikir-pikir apa untungnya Al mengetahui kalau dirinya seorang penyihir? Kalaupun Al bilang kepada semua orang pastilah tidak ada yang percaya. Karena Lita tidak pernah menampakkan sedikitpun kekuatan sihirnya di depan siapapun kecuali orang tuanya.
***
                Selama pelajaran berlangsung Al terus memperhatikan Lita. Bukannya Lita tidak tau tapi Lita tidak ingin menegur Al. Kejadian kemarin sudah cukup membuat Lita takut. Juga tingkah Al yang sangat misterius menjadikan Lita tak acuh kepada Al. Semakin dia menanggapi Al maka semakin  dia penasaran juga.

Teng.. Teng... Teng...
         
Mendengar bel istirahat semua murid berhamburan keluar kelas kecuali Lita. Dia lebih memilih membaca novel di dalam kelas.

“ Lita, kamu nggak ke kantin?” tanya Jessy
“ enggak, aku males jes” jawabnya dengan senyum
“yaudah.. aku ke kantin dulu yaa” ucap Jessy seraya keluar kelas

            Beberapa saat setelah Jessy keluar kelas Al masuk datang dan langsung duduk di samping Lita. Tak ada percakapan diantara mereka karena memang tidak ada yang ingin bicara. Tapi entah mengapa dan entah ada apa tiba-tiba Al memulai pembicaraan.

“ jadi bener kan kalau loe itu der zauber” ucap Al
“ maksud loe apa siih dari kemarin ngomong gitu terus” jawab Lita dengan kesal
“ gue gak bermaksud, Cuma mastiin aja” ujar Al
“ udah lah, gue males ngomong sama orang aneh kayak loe” ucap Lita lalu pergi
***

“ jadi mama harus pergi sekarang?” tanya Lita
“iya sayang, papa kamu sakit sekarang” jawab mamanya
“ kenapa gk pake sihir aja sih ma, biar cepet sampai ke Prancis” saran Lita
“ aduh sayang, kita gak boleh asal pakai sihir. Tempat papa kamu itu jauh kalau mama nggak bisa nyampe ke Prancis bisa-bisa nyasar ke dunia penyihir” jelas mama Lita
“ kamu baik-baik di rumah ya sayang” sambung mama Lita
“iya ma, mama juga hati-hati ya” ucapnya sambil mengantar mamanya ke airport

            Sedikit cuplikan percakapan antara Lita dan mamanya. Yaa mamanya Lita pergi ke Prancis untuk mengurusi papanya yang sedang sakit. Sebenarnya Lita ingin ikut menjenguk papanya. Tapi karena ia harus sekolah dan jarak antara Indonesia dan Prancis tidaklah dekat mamanya melarangnya untuk ikut. Pasti kalian bertanya-tanya mengapa tidak memakai sihir? Jika memakai sihir, resikonya sangat besar untuk jarak yang amat jauh ke tempat yang ingin dituju.

***

            Karena merasa sepi di rumah Lita memutuskan untuk menyalurkan hobby nya untuk fotografi di taman belakang rumahnya. Dia memotret kupu-kupu, bunga, dan tanaman lain yang ada di taman itu. Dia mengalihkan lensa kameranya ke beberapa tempat.

            Setelah puas memotret Lita memindahkan semua foto yang ada di kamera ke laptopnya. Lita mengamati setiap foto yang dia ambil tapi, betapa terkejutnya Lita mendapati satu foto yang menangkap sesosok cowok yang sedang berdiri di dekat gazebo. Setelah benar-benar diamati sesosok itu amat sangat mirip dengan Al.

            Hah...Al?? kenapa bisa disini?? Dia masuk lewat mana?? Terus dia keluar juga lewat mana?? Kenapa aku gak tau sama sekali kalau dia ada di dekat gazebo??


To be continued......

Terimakasih buat yang udah baca :D
Maaf yaa ngaret banget ini, pendek pula :/ soalnya buntu mau ngetik apa :)
Maaf juga kalau typo  karena saya hanya manusia biasa 

ohh iya, ini ilustrasinya Al sama Lita